Pe Larian- Me Larikan Isteri Orang
Sepuluh tahun aku menenggelamkan kenangan hotel itu, tapi Rima muncul di Argo Bromo Anggrek untuk menyeretku kembali ke palung terdalam...
Bayu terombang-ambing antara misi bisnis ke Jakarta dan jeritan minta tolong dari masa lalu yang muncul di balik masker. Satu “Selamat malam, para penumpang yang terhormat. Selamat datang di perjalanan Kereta Api Eksekutif Argo Bromo Anggrek, relasi Surabaya Pasarturi menuju Stasiun Gambir Jakarta. Sesaat lagi pintu gerbong akan ditutup…” Suara dengung pengumuman dari pengeras suara kabin belum tuntas melayang di udara berpendingin yang m e n u s u k kulit ketika jemari dingin itu menyusup ke sela pergelangan tanganku. Jika saja ini gerbong kelas ekonomi, sentuhan itu pasti akan masuk gerbong utama, tindak pelecehan. Tapi manalah ada pelecehan bagi lelaki, yang ada sebaliknya. Ruang eksekutif yang sepi penumpang, jarak kursi yang teramat lebar dan kenyamanan yang pasti akan membuat kaum jelata menganga, tak semua orang punya. Aku memicingkan mata, menahan terkejut. Seorang gadis cantik, dengan masker menutupi sebagian muka, menyisakan bulu mata yang lentik dan tahi lalat di sudut mata membuat siapa pun akan terpana memandang. Rambut lebat hitam tergerai sebahu, setiap gerakannya memicu debar j a n t u n g k u... Rima… Tangan lembutnya menyentuh lagi punggung tanganku lembut. "Mas..." desahnya di telingaku ketika dia memperbaiki posisi duduk berhadapan denganku, "bawa aku pergi, Mas..." Napasnya panas, mengikis sisa akal sehatku. "Kamu… gila?" desisku tajam. "Tolong aku." "Sepuluh tahun, Rima! Kamu sengaja duduk di kursi depanku ini?" "Aku lihat kamu di peron tadi." "Tarik tanganmu." "Nggak mau!" Jemarinya malah mencengkeram kulitku sampai memutih. "Tarik aku pas pintu kebuka di Lamongan nanti. Bawa aku lari, Mas… Bayu!" "Ada urusan bisnis di Jakarta—" "Batalkan! Kamu berutang hidupku setelah ninggalin aku di kamar hotel sialan itu!" "Jangan bicara k e r a s-k e r a s!" "Kenapa? Takut dosa lamamu ketahuan?" "Rima, kendalikan dirimu!" "Sentuh aku lagi, Mas," bisiknya p u t u s asa, matanya basah menatap lurus ke pupilku. "Bilang kalau kamu masih hafal tiap lekuk tubuhku. Bilang kalau kamu nggak lupa!" Suara derit pintu bordes otomatis mendadak bergeser terbuka. Langkah kaki tegas mendekat dari lorong. Deg! Tangan Rima tersentak lepas. Dia menarik tubuhnya mundur secepat kilat, membuang muka ke arah jendela berpendar temaram malam sambil meremas tali tas di pangkuannya. Aku buru-buru menegakkan sandaran kursi, menahan napas yang t e r c e k a t di tenggorokan, bersiap menghadapi siapa pun yang memergoki kami. Roda troli berderit pelan. "Permisi, selamat malam. Mau kopi panas, teh, atau camilannya, Mas, Mbak?" Hanya petugas beverages berseragam biru tua yang mendorong troli makanan ringan. Aku menghembuskan napas panjang yang tertahan di dada. Bahu Rima yang tadi kaku tampak sedikit turun, namun napasnya masih memburu di balik masker. Petugas itu tersenyum sopan, lalu kembali melangkah mendorong trolinya melewati deretan kursi eksekutif yang lengang. Belum sempat Rima kembali membuka mulut untuk mendesakku, sebuah bayangan tegap lain muncul di ujung lorong, melangkah santai tanpa alas kaki di atas karpet beludru. Kali ini bukan petugas. Seorang lelaki bertubuh tegap dengan gamis katun abu-abu muda berpostur tinggi rapi mendekati baris kursi kami. Wajahnya bersih, teduh, dengan garis ketenangan ningrat khas priyayi yang sangat anggun. Tanpa ragu, lelaki itu duduk persis di sebelah Rima. Tangannya terulur lembut, menyeka butir keringat dingin di pelipis Rima, lalu merapikan helaian rambut hitam yang tergerai sebahu itu dengan pemujaan yang teramat tulus. "Bawaanmu terlalu banyak, Dek," ucap lelaki itu memandang Rima penuh cinta. "Mungkin lain waktu kita perlu pesan bagasi tambahan di pesawat agar segera bisa packing di rumah baru kita." D a r a h k u mendadak berhenti mengalir. Dek? Packing di rumah baru kita? Mataku t e r p a k u ke bawah tas bermereknya: pada kilau sepasang cincin emas bermata satu yang melingkar di jari manis lelaki bergamis itu—dan di jari manis Rima yang kini gemetar hebat. Apa! Dia... Rima... gadis itu sudah menikah? 🌊 Penasaran dengan kelanjutan kisah sedalam samudra ini? ✨ 👇 Baca bab selengkapnya dan arungi kisah bersama Ocean Whale! 🐳 🐋 Judul: Pelarian-Melarikan Isteri Orang ✍️ Karya: Mrs.E #pelarianmelarikanisteriorang #mrse #OceanWhale #SamudraNovel #BacaNovel #RekomendasiNovel

Komentar
Posting Komentar